"الله جميل يحبّ الجمال"

Allah Itu Indah, Mencintai Keindahan

Sabtu, 20 Juni 2009

PROBLEMA KENAKALAN REMAJA DI DALAM PENDIDIKAN


PROBLEMA KENAKALAN REMAJA DI DALAM PENDIDIKAN

Dewasa ini,kenakalan remaja telah menjadi penyakit ganas ditengah-tengah masyarakat, mengingat remaja merupakan bibit pemegang tampuk pemerintahan negara di masa depan. Lebih parah, berbagai kasus kenakalan remaja tersinyalir telah meresahkan masyarakat, semisal kasus pencurian, kasus asusila seperti free sex, pemerkosaan, bahkan pembunuhan. Oleh berbagai praktisi media bahkan para pemerhati sosial hal ini telah banyak digubris dan dicari benang merahnya. Hanya saja, sejauh ini usaha tersebut belum terlihat goal dan terkesan hanya sebagai bahan berita di media massa dan diskursus oleh berbagai kalangan yang belum ada realitas khusus.
Akhir-akhir ini di beberapa media massa sering kita membaca tentang perbuatan kriminalitas yang terjadi di negara yang kita cintai ini. Ada orang tua kandung yang tega meniduri anaknya sendiri, ada seorang anak yang meniduri ibu kandungnya sendiri, ada guru yang melakukan kekerasan dalam mendidik siswa-siswanya dan masih banyak lagi kriminalitas yang terjadi di negeri ini. Kerusakan moral sudah merebak diseluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa serta orang yang sudah lanjut usia. Semua kalangan tidak mau disalahkan, pemerintah menyatakan diri telah berusaha memperbaiki dekadensi moral ini dengan berbagai program yang hanya tertulis dalam kertas-kertas, ulama’ menyatakan diri sama dengan pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk memperbaikinya, berbagai organisasi dan gerakan dideklarasikan tetapi hanya sebatas wacana belaka kenyataannya tetap saja moral ini tidak bisa diperbaiki.
Lantas jika semuanya merasa telah berbuat kenapa semua ini masih terjadi? Lantas siapa yang harus disalahkan? Apakah pemerintah yang memiliki kuasa yang bersalah? Atau para ulama’? saya rasa terlalu sempit pemikiran kita jika hanya menyalahkan pemerintah atau ulama’. Semua kita bertanggung jawab atas dekadensi moral yang terjadi di negeri ini, kita adalah orang yang bertanggung jawab atas musibah yang terjadi di negeri ini. Dalam tulisan sederhana ini saya mencoba mengajak pembaca untuk lebih menyorot masalah kenakalan ramaja yang terjadi di negeri ini. Ada banyak kriminalitas remaja yang sangat memiris hati. Baru-baru ini kita melihat di media adanya kekerasan yang dilakukan oleh pelajar putri terhadap teman sekolahnya, semua ini terjadi seolah-olah hal yang lumrah kita dengar, padahal hal ini merupakan kriminalitas yang menunjukkan ketidak berhasilannya pendidikan di Indonesia.
Jika kita mencoba meneliti sejenak kita akan melihat ada banyak faktor yang menyebabkan kenakalan remaja ini terjadi, setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi prilaku seorang remaja. Pertama, faktor lingkungan. Lingkungan adalah faktor yang paling mempengaruhi prilaku dan watak anak, jika dia hidup dan berkembang di lingkungan yang buruk maka ahlaknyapun akan seperti itu adanya, sebaliknya jika dia berada di lingkungan yang baik maka ia akan menjadi baik pula. Kedua, pendidikan dan pembinaan dari orang tua. Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan ahlak dan prilaku anaknya. Yahudi dan Nasrani anaknya tergantung orang tuanya, pembinaan dari orang tua adalah faktor yang terpenting dalam memperbaiki dan membentuk generasi yang baik. Ketiga. Pemerintah dalam spesifiknya adalah lembaga pendidikan atau sekolah, kenakalan remaja ini sering terjadi ketika anak berada di sekolah dan jam pelajaran kosong, belum lama ini bahkan kita telah melihat dimedia adanya kekerasan antar pelajar yang terjadi di sekolahnya sendiri.
Dari berbagai faktor dan permasalahan yang terjadi di kalangan remaja masa kini sebagaimana telah disebutkan di atas, maka tentunya ada beberapa solusi yang saya tawarkan dalam pembinaan dan perbaikan remaja masa kini.
Pertama, membentuk lingkungan yang baik. Sebagaimana di sebutkan di atas lingkungan merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi prilaku manusia, maka untuk menciptakan generasi yang baik kita harus menciptakan lingkungan yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang shaleh, memilih teman yang dekat dengan sang khaliq dan masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan. Jika hal ini mampu kita lakukan, maka peluang bagi remaja untuk melakukan ha negatif akan sedikit berkurang.
Kedua, pembinaan dalam keluarga. Sebagaimana disebut diatas bahwa keluarga juga punya andil dalam membentuk pribadi seorang anak. Jadi untuk memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Mulailah perbaikan dari sikap yang paling kecil, seperti selalu berkat jujur meski dalam dalam gurauanpun jangan sampai kata-kata bohong, membaca doa setiap melakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada keluarga dan masih banyak yang bisa kita lakukan, memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik, akan tetapi kita bisa lakukan hal itu dengan perlahan dan sabar, jika sabar dan yakin maka semuanya akan sangat bermakna dan memberikan manfaat bagi perbaikan generasi muda.
Ketiga, sekolah. Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja, diantaranya melakukan program mentoring pembinaan remaja lewat kegiatan keagamaan seperti rohis, sispala, patroli keamanan sekolah dan lain sebagainya. Jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini maka kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi.
Masih banyak hal lain yang dapat yang kita lakukan dalam memperbaiki kenakalan yang terjadi saat ini. Semuanya adalah tanggung jawab kita, orang bijak tidak menyalahkan keadaan tetapi mencari solusi untuk menghadapi kenyataan. Marilah kita sama-sama bekerja untuk memprbaiki masa depan generasi kita, karena hitam dan putih bangsa ini ada di tangan mereka semua.
Jika kita tidak memulai dari sekarang dan dari kita sendiri, maka siapa lagi yang akan memulai dan memperbaikinya. Tidak ada lagi kata untuk saling menyalahkan. Untuk memulai perbaikan ini butuh keseriusan semua pihak. Marilah kita sama-sama serius untuk memperbaiki masa depan bangsa ini. Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok. Marilah kita mulai tidak hanya dengan mimpi tetapi dengan usaha yang nyata.
Ya, ternyata karakter remaja dan ujung-ujungnya berbagai kasus kenakalan pun tak jauh-jauh dari globalisasi, terutama di bidang teknologi, serta westernisasi (budaya kebarat-baratan). Belum lama ini, seperti yang dikoar-koarkan oleh berbagai media, kasus smack down yang sempat mencapai rating tinggi dalam tanyangan televisi di Indonesia telah mengambil posisi tersendiri di kalangan anak/ remaja. Mereka dengan serta merta mempraktekkan adegan semacam itu yang pada akhirnya menjadikan suatu bentuk kriminalitas remaja.
Selain itu, berbagai adegan pornografi di televisi mulai dari kasus ringan sampai berarpun telah menjadi bentuk pendidikan nilai-nilai yang tidak sepantasnya dilakukan oleh remaja. Mereka sebenarnya membutuhkan asupan gizi semisal serupa tontonan yang mendidik yang mencerminkan insan cendikia, intelek, atau akademis, telah diracuni dengan berbagai adegan pacaran bahkan bentuk kegiatan seksual yang lebih jauh/parah. Didikan semacam itu rupanya sangat ampuh untuk membangun kareakter tempe setiap anak/remaja.
Remaja semacam itu yang oleh Kartini Kartono (1988:93) disebut sebagai anak cacat sosial atau cacat mental sebenarnya sudah mengalami demoralisasi atau kemerosotan gradasi moral. Selain karena kondisi sosial di atas, kondisi keluarga pun sangat menentukan, terutama proses pendidikan dari orang tua sebagai upaya pembentukan karakter (character building) anak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon ... klo udah baca posting kami, jangan lupaaaaaaaaaaaa kasi komentar yaaa .... n saran konstruktif ....................


thanks yaa atas komentar kaliaaannnnnnnnnnnnnnn !!!!!